Pendahuluan
Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika
batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita
untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.
Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan
atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta
membentuk hubungan positif dengan orang lain. Namun sebaliknya, orang yang
kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan
berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku
buruk.
Tidak mengherankan jika penyakit mental dapat
menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari penderitanya, misalnya
terganggunya interaksi atau hubungan mereka dengan orang lain, terganggunya
prestasi di ruang lingkup pendidikan, dan terganggunya produktivitas dalam
pekerjaan.
Teori
Normal adalah
keadaan sehat (tidak patologis) dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan Abnormal adalah
menyimpang dari yang normal (tidak biasa terjadi). (Maramis, 1999)
Perilaku
Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima
oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi Abnormal adalah
sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada
sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang
memuaskan. (Kartini Kartono, 1989)
Perilaku Abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Perilaku Abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Normal dan
abnormal perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek dan
pendekatan. Profesor Suprapti Sumarno
(1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Jadi, batas antara
normal dengan abnormal bukan dilihat sebagai dua kutub yang berlawanan,
melainkan lebih berada dalam satu kontinum sehingga garis yang membedakan
sangatlah tipis.
Analisis
Gangguan
kecemasan
Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika
penderitanya mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit
dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya
timbul pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian
di sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa
cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami
kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu.
Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan,
gejala psikologis lain yang mungkin bisa muncul pada penderita gangguan
kecemasan adalah berkurangnya rasa percaya diri, menjadi lekas marah, stres,
sulit berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.
Ada beberapa contoh kesehatan mental di
tengah masyarakat sudah mulai mengalami gangguan, seperti:
1.
Kejahatan Dianggap Menjadi Hal Yang Biasa
Melakukan
kejahatan saat ini, seperti menjadi hal yang biasa-biasa saja bagi sebagia
orang. Ini lantaran, besarnya tekanan dalam hidup membuat orang rela melakukan
apa saja. Sampai-sampai korupsi atau kejahatan mengambil hak orang lain menjadi
sebuah tren di kalangan orang yang mengaku dirinya paling berpendidikan.
2.
Semakin Sering Mahasiswa Bertindak Anarkis
Contoh kesehatan mental yang
lainnya yakni semakin seringnya mahasiswa bertindak anarkis. Bertujuan untuk
membela kepentingan rakyat, tanpa disadari justru apa yang mereka lakukan lebih
menyusahkan rakyat, seperti merusak fasilitas umum.
Daftar Pustaka:
Daftar Pustaka:
Ardani
Ardi Tristiadi, M. Si. Psi. 2011. “Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung
Kartono,
Kartini, DR, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Penerbit
Mandar Maju. 1989.
Aditama
3. Jeffrey S. Nevid, dkk, 2005, Psikologi Abnormal, Edisi Kelima, Jilid I,
Jakarta : Airlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar