Kamis, 27 November 2014

Kebudayaan Tengger

Sejarah
Suku Tengger Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.

Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Deskripsi Lokal
Suku bangsa Tengger berdiam disekitar kawasan di pedalaman gunung Bromo yang terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo, Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung Bromo.

Unsur-Unsur Kebudayaan Bahasa

Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.

Pengetahuan
Pendidikan pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber pengetahuan lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat Tengger.

Teknologi
Dalam kehidupan suku Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan perubahan kebudayaan. Suku Tengger tidak seperti suku-suku lain karena masyarakat Tengger tidak memiliki istana, pustaka, maupun kekayaan seni budaya tradisional. Tetapi suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa obyek penting yaitu lonceng perungggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing.

Religi
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. 

Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

Organisasi Sosial Perkawinan
Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. 

Adat perkawinan yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.



Sistem Kekerabatan

Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.

Sistem Kemasyarakatan

Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. 

Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.

Mata Pencaharian
Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. 

Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.

Kesenian
Tarian khas suku Tengger adalah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasodo. Dari segi kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya pertanian dan pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa dengan masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.

Nilai-Nilai Budaya
Orang Tengger sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup rukun, sederahana, dan jujur serta cinta damai. Orang Tengger suka bekerja keras, ramah, dan takut berbuat jahat seperti mencuri karena mereka dibayangi adanya hukum karma apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang lebih banyak lagi. Orang Tengger dangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka.

Aspek Pembangunan
Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan pembangunan-pembanguna akses-akses menuju gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau oleh wisatawan. Desa Tosari merupakan salah satu pintu gerbang daerah Tengger, desa ini memanjang dari utara sampai selatan. Di tengah desa itu terdapat pasar dan tempat-tempat ibadah seperti masjid bagi umat Islam dan pura bagi umat Hindu. 

Minggu, 23 November 2014

Friendzone, is it happy ending or not?

Halo semua! Setelah beberapa bulan belakangan ini ga nulis blog karena kesibukan kuliah gue dan juga untuk memenuhi tugas IBD dari dosen, akhirnya gue kembali hadir dengan topik yang sekarang ini lagi nge-tren banget dikalangan remaja,  terutama yang  menjalin hubungan persahabatan antara cewek dan cowo. YA! Friendzone.




Friendzone sendiri adalah suatu kondisi dimana lo menyukai lawan jenis lo, tapi lo hanya dianggap teman
JLEB ABIS KAN?

Apasih ciri-ciri  orang terserang "friendzone"?
  1. Mulai jaim kalo lagi chat sama doi ataupun ketemu  doi
  2. Mulai ngerasa suka tapi malu
  3. Suka curi-curi pandang
  4. Timbul rasa takut kehilangan yang mendalam
  5. Modus mode: ON!
  6. Kalau denger lagu-lagu cinta, langsung baper, nangis, atau ngayal jadian sama doi
  7. Ada beberapa kasuss malah menghindari gebetannya tanpa sebab
  8. Cemburu buta saat doi sama yang lain
  9. Mulai konstan menghubungi lo beda dari yang dulu
  10. Mulai ngasih perhatian kecil yang bagi dia kode abis tapi lo nya ga peka
Okay selanjutnya, apakah "friendzone" akan berakhir bahagia?

Gue akan menjawab commmon question ini based on my experince yang mungkin bisa dijadikan ukuran lo

Friendzone akan berakhir tragis kalau si doi ngga merasakan yang sama
Cowok: Gue sayang sama lo selama ini
Cewek: Sorry, gue sayang sama lo tapi sebagai sahabat
NAH yang kaya gini nih apes. Ada banyak faktor kenapa doi bisa bilang gitu ke lo
  1. Lo terlalu pede dia bakal merasakan apa yang lo rasakan tentang dia
  2. Lo gak melihat sikon dia saat itu. Apakah dia lagi ngincer doi yang lain atau lagi pacaran sama orang lain
  3. Cara lo menyatakan salah, gapake basa-basi
  4. Lo sebelomnya memang ga dapet sinyal baik dari doi
  5. Lo ga bisa bikin dia nyaman :(
Gue yakin banget sih ya dari sisi psikologis, seseorang akan merasa nyaman dan hangat jika kondisinya baik juga. Tipsnya sih gini aja lo bikin dia nyaman sama lo, nyambung kalo diajak ngobrol, jadilah diri sendiri, dan jadilah orang yang selalu ada buat dia.

Friendzone akan berakhir bahagia kalau kedua pihak merasakan yang sama
Cowok: Gue sayang sama lo selama ini
Cewek: Gue juga sayang sama lo, tapi gue malu buat ngomong ke lo
SELAMAT! Cinta lo ga bertepuk sebelah tangan. Jawaban semacam itu biasanya akan membawa lo ke 1 jenjang yang dinamakan " Jadian". Gue pernah baca disalah satu artikel kalau lo jadian sama sahabat lo, in syaa allah lo bakal langgeng, karena lo udah memahami sifat pasangan lo dan 2,5% orang di dunia yang menjalin hubungan dengan sahabatnya, akan berujung ke pernikahan :D

Intinya semua balik ke lo lagi. Kalau lo memang sayang dia, lo akan berusaha mendapatkan dia, gimanapun caranya. Gue yakin semua usaha lo pasti akan terbalas dengan happy ending!

Sekian curcolan seorang mahsiswi psikologi yang terjebak friendzone berkali-kali </3
Bonus de nih lagu friendzone