Senin, 15 Juni 2015

Potensi Belajar dan Berbahasa pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi bagi setiap orang, termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya melalui berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, anak dapat mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain memahaminya dan menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas. Sebelum mempelajari pengetahuan lain, anak perlu menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik. Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung keberaksaraan di tingkat yang lebih tinggi. Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting karena dengan bahasa sebagai dasar kemampuan, seorang anak akan dapat meningkatkan kemampuan yang lain. Pendidik perlu menerapkan ide-ide mereka untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, memberikan contoh penggunaan bahasa dengan benar, dan menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif. Anak perlu terus dilatih untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang dimilikinya. Kegiatan nyata yang diperkuat dengan komunikasi akan terus meningkatkan kemampuan bahasa anak. Lebih daripada itu, anak harus ditempatkan di posisi yang terutama, sebagai pusat pembelajaran yang perlu dikembangkan potensinya. Ketika belajar bahasa, anak perlu menggunakan berbagai strategi, misalnya permainan yang bertujuan mengembangkan bahasa anak dan penggunaan berbagai media yang mendukung pembelajaran bahasa. Anak akan mendapatkan pengalaman bermakna dalam meningkatkan kemampuan berbahasa.
Setiap anak itu cerdas dan unik. Pernyataan ini rasanya tidaklah berlebihan. Karena inilah paradigma pemikiran baru yang berkembang di dunia pendidikan saat ini, dimana fakta membuktikan bahwa kecerdasan anak tak melulu tersentralisasi pada kemampuan eksak berdasarkan tingginya standar Intelligence Quotient (IQ). Tapi juga menimbang sisi Emotional Intelligence (EQ). Hal ini jelas mendobrak persepsi yang sudah kadung mapan dipikiran banyak orang tua. Dimana anak berprestasi hanya dihitung bila si anak mendapat ranking di kelasnya. Hingga jumlah anak cerdas menjadi terbatas, menempati strata tertentu yang kerap tak dijangkau sebagian anak lainnya. Padahal rasa ingin tahu anak dan daya jelajahnya pada lingkungan adalah sebagian contoh betapa kecerdasan setiap anak sudah dibawa sejak lahir. Tinggal orangtua menjaga potensi dasar ini agar bisa berkembang dan tetap dipertahankan hingga si anak dewasa.
1.1  Rumusan Masalah
1)     Pembahasan kasus “Bingung Bahasa” oleh anak dari salah satu ibu
2)     Bagaimana cara anak memelajari bahasa?
3)     Faktor apa saja yang menyebabkan anak mogok bicara?
4)     Bagaimana cara menyelesaikan kasus tersebut?
5)     Hal apa yang harus disadari orang tua dalam memenuhi ambisinya?
1.2  Tujuan Penulisan
1)     Mengetahui kasus Bingung Bahasa oleh anak dari salah satu ibu.
2)     Mengetahui cara anak memelajari bahasa.
3)     Mengetahui faktor penyebab anak mogok bicara.
4)     Mengetahui cara menyelesaikan kasus tersebut.
5)     Mengetahui cara menyadarkan orang tua dalam memenuhi ambisinya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kasus “Bingung Bahasa”
Dalam pembahasan kali ini, penulis akan menerapkan kasus dari seorang ibu yang memaksa anaknya untuk bisa berbagai macam Bahasa di usia dini.
“Saya pernah bertemu dengan seorang ibu di tempat trapi bicara anak saya. Si ibu datang dengan membawa anaknya berusia 3 tahun. Ia mengeluhkan anaknya mengalami mogok bicara. Selidik punya selidik, ternyata apa yang menjadi penyebabnya adalah si anak dimasukkan ibu ke play grup sebuah sekolah Internasional yang memakai metode bilingual, dengan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Sementara sang anak dirumah dibiasakan memakai bahasa Indonesia. Alhasil, ia mengalami apa yang disebut bingung bahasa. Pada anak tertentu yang memang bermasalah pada kecerdasan linguistiknya, hal ini bisa saja terjadi.Sebagai solusi awal, trapis menanyakan sang ibu, bahasa mana dulu yang ingin dikuasai anaknya sebagai bahasa pertama (bahasa ibu). Dalam kasus ini, sang ibu sangat ambisius membuat anaknya bisa menguasai aneka bahasa sejak dini. Bila sudah begini, tentu anak menjadi korbannya.Bila mau jujur, kasus ambisi orang tua memintarkan anaknya seperti ini, boleh jadi sangat sering terjadi. Hingga kita lihat sekolah-sekolah berlabel Internasional tak pernah sepi peminat. Padahal belum tentu sekolah seperti itu yang dibutuhkan anak. Hingga dalam hal ini orang tua perlu bijak memilih. Agar anak  tak menjadi stress akibat dipaksa pintar. Seperti kasus yang terjadi diatas, alih-alih ingin pintar, yang terjadi malah si anak harus menjalani trapi untuk membantu kemampuan berbahasanya. dan potensi anak yang sesungguhnya menjadi tak tergali.”
2.2 Cara Anak Memahami Bahasa
Terdapat beberapa teori mengenai perolehan bahasa pada bayi dan balita yang bersumber pada perkembangan psikologi yang bersifat natur dan nurtur. Natur adalah aliran yang meyakini bahwa kemampuan manusia adalah bawaan sejak lahir. Oleh karena itu manusia telah dilengkapi secara biologis oleh alam (natur) untuk memproduksi bahasa melalui alat-alat bicara (lidah, bibir, gigi, rongga tenggorokan, dibantu oleh alat pendengaran) maupun untuk memahami arti dari bahasa tersebut (melalui skema pada kognisi). Noam Chomsky adalah tokoh yang mempercayai peran natur secara radikal dalam perolehan bahasa. Pihak yang mempercayai kekuatan nurtur dalam perolehan bahasa berargumen bahwa bayi dan balita memperoleh bahasa karena terbiasa pada bahasa ibu. Hal ini terbukti pada pembentukan kemampuan fonem yang tergantung pada bahasa ibu. Misalkan pada bayi Jepang pada usia dibawah 6 bulan masih dapat membedakan fonem ra dan la dengan jelas, namun pada usia satu tahun mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la. Michael Tomasello mengkritik Chomsky bahwa bahasa tidak akan muncul begitu saja. Ia meyakini bahwa bahasa diperoleh karena bayi belajar menggunakan bahasa sebagai simbol terlebih dahulu dengan kemampuan bayi untuk melakukan atensi bersama (Join attention) pada saat sebelum bayi mampu memproduksi Bahasa. Pada dasarnya natur dan nurtur memiliki kontribusi terhadap perolehan bahasa pada bayi.
Cara anak belajar berbahasa bisa dengan cara:
-        Imitasi
Imitasi dalam perolehan bahasa terjadi ketika anak menirukan pola bahasa maupun kosa kata dari orang-orang yang signifikan bagi mereka, biasanya orang tua atau pengasuh. Imitasi yang dilakukan oleh anak, tidak hanya menirukan secara persis (mimikri) hal yang dilakukan orang lain, namun anak memilih hal-hal yang dianggap oleh anak menarik untuk ditirukan.
-        Pengkondisian
Mekanisme perolehan bahasa melalui pengkondisian diajukan oleh B.F Skinner. Mekanisme pengkondisian atau pembiasaan terhadap ucapan yang didengar anak dan diasosiasikan dengan objek atau peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu kosa kata awal yang dimiliki oleh anak adalah kata benda.
-        Kognisi sosial
Anak memperoleh pemahaman terhadap kata (semantik) karena secara kognisi ia memahami tujuan seseorang memproduksi suatu fonem melalui mekanisme atensi bersama. Adapun produksi bahasa diperolehnya melalui mekanisme imitasi.
2.3 Faktor yang Menyebabkan Anak Bingung Bahasa
Dasar-dasar permulaan membaca dan menulis dimulai sejak lahir dan berkembang terus-menerus sepanjang hidup. Di usia yang sangat dini, anak-anak mulai belajar bahasa lisan saat mendengar anggota keluarganya berbicara, tertawa, bernyanyi, dan ketika orang di sekitarnya menanggapi semua celotehannya. Demikian pula ia mulai memahami bahasa tulisan ketika mendengar orang dewasa membacakan cerita untuknya serta melihat anggota keluarganya membaca majalah, surat kabar, dan buku-buku. Kegiatan-kegiatan ini dihadirkan dalam suasana yang hangat, penuh cinta kasih, dan bebas tekanan sehingga kegiatan membaca dan menulis menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Faktor utama anak bingung bahasa adalah ambisi orang tua dalam memaksakan anak untuk bisa berbicara berbagai macam bahasa. Sebagaimana setiap anak adalah unik, demikian pula bakat dan potensi yang dimilikinya. Keunikan setiap anak ini harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, sehingga orangtua tak jatuh pada tindakan membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Padahal, sudah jelas setiap anak berbeda dan unik, baik keunikan yang berasal genetika maupun lingkungan tempatnya bertumbuh sejak bayi. Faktor nutur dan nature juga berpengaruh besar dalam kemampuan anak berbahasa. Jika anak terbiasa dan tumbuh dilingkungan yang menggunakan bahsa Indonesia lalu dimasukkan ke sekolah yang menerapkan bahasa asing, maka akan terjadi gap-bahasa. Fungsi sekolah selain tempat menuntun ilmu, juga sebagai rumah kedua bagi sang anak. Hal ini tentu menyiksa sang anak dari sisi psikologis dengan cemoohan teman sebaya karena tidak bisa berbahsa asing dan tuntutan orang tua yang kurang rasional.
2.4 Cara Menyelesaikan Kasus Bingung Bicara
               Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang sekitar, terutama orang tua dalam menyelesaikan kasus bingung bicara:
A.    Menyadari bahwa Potensi Anak Unik & Beragam
Potensi dan bakat anak itu sendiri sangat beragam. Bakat itu bisa terkait dengan hal-hal akademis yang bisa dikenali dengan nilai-nilai rapor, tetapi bisa juga tak berhubungan dengan akademis. Penilaian bakat dan prestasi anak yang didasarkan pada nilai rapor adalah terlalu menyempitkan makna kecerdasan dan potensi anak. Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) menyebutkan ada 8 jenis kecerdasan anak, yaitu: kecerdasan logika/matematika, kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan interpersonal, kecerdasan fisik/kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan alam.  Tapi kalau kita bicara tentang potensi anak, tentu saja cakupannya bisa lebih luas dari itu.
B.    Peran orangtua sebagai pembantu
Bakat anak adalah titipan yang diberikan Tuhan kepada anak. Titipan itu melekat pada anak dan menjadi milik anak, bukan milik orangtua. Oleh karena itu, setiap saat orangtua harus menyadari bahwa fungsinya adalah membantu anak. Orangtua bukanlah penentu masa depan anak. Tetapi orangtua berperan untuk membantu agar potensi-potensi yang dititipkan Tuhan kepada anak itu bisa keluar, ditemukan, dan tumbuh berkembang. Membantu menemukan dan menumbuhkan bakat, berarti orangtua perlu berfokus pada kekuatan (strength) anak, bukan pada kelemahannnya. Menumbuhkan bakat adalah usaha untuk mengasah kekuatan anak. Ibaratnya, mengembangkan bakat adalah seperti membangun bukit, bukan menutupi jurang.
C.    Menciptakan Lingkungan, memberikan Stimulasi
Untuk mengenali bakat dan potensi anak, peran orangtua utama adalah memberikan lingkungan yang nyaman untuk tumbuh dan berkembangnya potensi anak itu. Anak tidak merasa takut mengeluarkan dirinya. Anak juga merasa nyaman untuk berproses dengan hal-hal yang menjadi minatnya, yang terkadang masih berubah-ubah.Karena anak masih berkembang, tugas orangtua adalah mendampingi. Terkadang orangtua mengekspos anak pada sebuah hal tertentu, terkadang menemani, menyemangati, menjadi teman diskusi, menguatkan anak agar terus bersemangat menempa diri. Tapi terkadang, orangtua juga berperan membantu anak untuk mengeksplorasi hal-hal baru di luar bidang yang selama ini digelutinya.
D.    Bertumbuh Bersama Waktu
Karena setiap anak tumbuh dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda, demikian pula perkembangan potensi anak tumbuh dengan cara yang beragam pula. Ada anak yang cepat kelihatan dan mudah dikenali bakatnya. Ada anak yang tak tahu dan terus mencari apa yang menjadi kesenangannya. Ada anak yang sudah
tetap minatnya. Ada yang anak yang masih berubah-ubah. Demikianlah memang dunia anak-anak. Orangtua memang perlu memfasilitasi anak, tetapi pada saat bersamaan perlu memelihara kesabaran dan kelapangan hati kala anak tak berkembang seperti yang diharapkannya. Yang penting, jangan berhenti berharap. Jangan berhenti bmerusaha dan memberikan stimulasi pada anak. Kita tak pernah tahu kapan benih itu merekah dan benih apa yang merekah diantara beragam benih kebajikan yang kita sebarkan pada anak.
2.5 Hal yang Harus Disadari Orang Tua dalam Memenuhi Ambisinya
Dalam proses pengembangan bakat pada anak, peran orangtua sangat dominan. Sebab, anak masih sangat bergantung pada orangtua. Apa yang disukai dan didorong orangtua, anak akan berusaha memenuhinya. Anak akan berusaha menggapai harapan-harapan yang digantungkan orangtua kepadanya. Di sinilah fungsi orangtua menjadi penting untuk menjaga agar aktivitas-aktivitas pengembangan bakat anak itu berada dalam koridor yang sehat. Koridor yang sehat berarti aktivitas itu memang betul-betul untuk kepentingan anak, bukan sekedar wujud ambisi orangtua. Ukuran sederhananya adalah anak menikmati proses yang dijalaninya, bukan melakukan kegiatannya dengan terpaksa. Dengan menjaga agar pengembangan bakat berada dalam koridor yang sehat, pertumbuhan potensi anak bisa terus berkembang dalam jangka panjang. Kalau tidak, setiap waktu anak dapat memberontak karena tak mau dipaksa lagi oleh orangtuanya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
            Dari pembahasan diatas, bisa disimpulkan bahwa jika orang tua memaksakan anak untuk bisa berbagai macam bahasa diusia dini tanpa diimbangi nutur dan nature, pikiran rasional dan menyadari kemampuan anak akan  membunuh potensi yang dibawa anak sejak lahir. Orang tua diharapkan memahami  sampai mana kemampuan dan potensi yang dibawa anak karena semua orang terlahir dengan keunikan dan bakat masing-masing. Belajar menerima apa adanya bakat bawaan anak adalah salah satu cara kita menghargai potensi anak. Sembari itu, orang tua mendampingi anak dengan penuh kasih sayang. Kelak ia akan tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa ada tekanan.
3.2 Saran-saran
            Untuk mendidik anak bisa beragam bahasa dalam usia dini sebaiknya dilakukan perlahan. Tidak perlu terburu-buru karena semua butuh proses. Bahasa pertama yang harus diajarkan adalah bahasa ibu, yaitu tempat dimana sang anak tinggal. Menginjak jenjang usia lebih tinggi, anak boleh dimasukkan ke lembaga bahasa asing untuk belajar dan melatih berbahasa
3.3 Dafatar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar